Bab 6. Metrik & Pengukuran
Lamanya waktu seorang pengunjung berada dan aktif menjelajahi sebuah website dalam satu kali kunjungan, dihitung sejak halaman pertama dibuka hingga kunjungan berakhir.
Seperti mengukur berapa lama seorang tamu betah berada di sebuah pameran sebelum akhirnya pulang.
Session Duration yang panjang tidak selalu berarti positif, bisa juga menandakan pengunjung kebingungan mencari informasi yang seharusnya mudah ditemukan.
Sebuah website blog melihat rata-rata Session Duration meningkat dari 1 menit menjadi 4 menit setelah menambahkan artikel yang lebih mendalam.
Jumlah total halaman yang dilihat oleh pengunjung di sebuah website, termasuk jika satu halaman yang sama dibuka berulang kali oleh orang yang sama.
Seperti menghitung berapa kali sebuah halaman buku dibuka, bukan berapa banyak orang yang membacanya.
Page Views sering disalahartikan sebagai jumlah pengunjung, padahal satu pengunjung bisa menghasilkan banyak Page Views jika membuka beberapa halaman berbeda.
Sebuah website berita mencatat 50.000 Page Views dalam sehari, meski jumlah pengunjung sebenarnya hanya 20.000 orang.
Jumlah individu berbeda yang mengunjungi sebuah website dalam periode waktu tertentu, dihitung satu kali meski orang yang sama berkunjung berulang kali.
Seperti menghitung jumlah orang berbeda yang datang ke sebuah toko dalam sehari, meski ada yang bolak-balik masuk keluar beberapa kali.
Perhitungan Unique Visitors bergantung pada teknologi pelacakan yang digunakan (seperti cookies), sehingga satu orang yang mengakses lewat perangkat berbeda bisa terhitung dua kali.
Sebuah website mencatat 10.000 Unique Visitors dalam sebulan, artinya ada 10.000 individu berbeda yang berkunjung.
Pengunjung yang sebelumnya pernah mengakses sebuah website dan kembali berkunjung lagi di lain waktu, berbeda dari pengunjung yang baru pertama kali datang.
Seperti pelanggan langganan yang kembali ke warung yang sama, berbeda dari pejalan kaki yang baru pertama kali mampir karena kebetulan lewat.
Proporsi Returning Visitor yang tinggi biasanya menandakan konten atau produk yang cukup bernilai untuk membuat orang kembali.
Sebuah website berlangganan konten premium bangga karena 60% pengunjungnya adalah Returning Visitor.
Persentase yang menunjukkan seberapa sering sebuah halaman menjadi titik terakhir sebelum pengunjung meninggalkan website, dihitung dari halaman itu di antara semua sesi yang melibatkannya.
Seperti menghitung dari pintu mana paling banyak orang keluar dari sebuah gedung dengan banyak ruangan.
Exit Rate sering tertukar dengan Bounce Rate. Bounce Rate mengukur kunjungan yang hanya melihat satu halaman lalu langsung pergi, sementara Exit Rate mengukur halaman terakhir yang dilihat.
Halaman "Terima Kasih" setelah checkout wajar memiliki Exit Rate tinggi, karena memang menjadi titik akhir alami perjalanan pengunjung.
Perkiraan waktu yang dihabiskan pengunjung pada satu halaman tertentu sebelum berpindah ke halaman lain atau meninggalkan website.
Seperti mengukur berapa lama seseorang berdiri di depan satu etalase tertentu di dalam mal, bukan total waktu dia berada di seluruh mal.
Time on Page untuk halaman terakhir yang dibuka pengunjung dalam sesi seringkali tidak tercatat akurat, karena sistem pelacakan biasanya menghitung berdasarkan kapan halaman berikutnya dibuka.
Sebuah artikel dengan 2.000 kata memiliki rata-rata Time on Page 3 menit, menandakan sebagian pembaca cukup serius membaca isinya.
Ukuran seberapa jauh pengunjung menggulir (scroll) sebuah halaman, biasanya dinyatakan dalam persentase seperti 25%, 50%, 75%, atau 100% dari total panjang halaman.
Seperti mengukur sampai halaman berapa seseorang membaca sebuah buku sebelum berhenti.
Scroll Depth yang rendah pada bagian penting (seperti CTA di bagian bawah halaman) menandakan elemen tersebut mungkin perlu dipindahkan lebih ke atas.
Sebuah landing page mendapati hanya 30% pengunjung yang scroll hingga 100%, sehingga tim memindahkan tombol pendaftaran menjadi lebih terlihat di bagian tengah.
Visualisasi data berbentuk peta warna yang menunjukkan area mana pada sebuah halaman yang paling banyak dilihat, diklik, atau di-scroll oleh pengunjung.
Seperti jejak lumpur di lantai sebuah pameran yang menunjukkan area mana yang paling banyak dilewati pengunjung.
Heat Map memberi gambaran perilaku secara visual, tapi tetap perlu dikombinasikan dengan data kuantitatif lain untuk memahami alasan di balik pola yang terlihat.
Sebuah landing page menggunakan Heat Map dan menemukan bahwa banyak pengunjung mengklik sebuah gambar yang sebenarnya bukan tombol.
Metode pengujian yang membandingkan beberapa kombinasi elemen sekaligus dalam satu waktu untuk menemukan kombinasi paling efektif.
Seperti menguji beberapa resep sekaligus dengan mengubah lebih dari satu bahan di setiap versi, dibanding A/B Testing yang hanya mengganti satu bahan.
Multivariate Testing membutuhkan jumlah traffic yang jauh lebih besar dibanding A/B Testing biasa, karena semakin banyak kombinasi, semakin banyak data yang dibutuhkan.
Sebuah landing page menguji tiga versi headline dan dua versi gambar sekaligus untuk menemukan kombinasi terbaik.
Angka acuan atau standar pembanding yang digunakan untuk menilai apakah performa suatu metrik tergolong baik, biasa saja, atau kurang.
Seperti nilai KKM (kriteria ketuntasan minimal) dalam ujian sekolah, tanpa angka pembanding ini sulit menilai apakah nilai 70 itu bagus atau kurang.
Benchmark industri hanya menjadi acuan umum, bukan patokan mutlak, karena setiap bisnis punya karakteristik audiens dan produk berbeda.
Sebuah brand melihat Benchmark rata-rata Engagement Rate untuk industri fashion adalah 3%, dijadikan acuan menilai performa akun mereka sendiri.
Satu metrik utama yang dianggap paling mencerminkan nilai inti yang diberikan sebuah bisnis kepada pelanggannya, dijadikan fokus tunggal yang menyatukan arah seluruh tim.
Seperti bintang penunjuk arah yang digunakan pelaut zaman dulu untuk bernavigasi, di tengah banyaknya angka yang membingungkan.
North Star Metric harus benar-benar mencerminkan nilai nyata bagi pelanggan, bukan sekadar angka yang mudah naik.
Sebuah platform streaming musik menjadikan "jumlah menit mendengarkan per pengguna per minggu" sebagai North Star Metric.
Ukuran yang menunjukkan apakah perbedaan hasil dalam sebuah pengujian benar-benar nyata secara statistik, atau hanya kebetulan semata akibat variasi data yang wajar.
Seperti membedakan apakah seseorang benar-benar jago melempar dadu mendapat angka 6, atau itu cuma kebetulan setelah baru mencoba lima kali.
Mengambil kesimpulan dari sebuah A/B Testing sebelum mencapai Statistical Significance berisiko menghasilkan keputusan yang keliru.
Sebuah tim menghentikan A/B Testing setelah hanya seminggu karena versi B terlihat lebih baik, padahal belum mencapai Statistical Significance.